Nokia 6 Review (text)

by admin@arvipra.my.id January 11, 2018 0 comment
nokia 6 - text review

Spesifikasi & Key Features

Sip, jadi ini merupakan momen bersejarah. Karena gue bisa membuat ulasan device yang tidak gue beli ahahaha. Bukan endorse juga sih, lebih tepatnya minjem dalam waktu seminggu. Device ini merupakan seri tertinggi nokia saat ini yang resmi di Indonesia ditemani Nokia 5 dan Nokia 3. Berikut key features dan spesifikasi dari Nokia 6

  • Layar IPS LCD 5.5” 1920×1080 dengan lapisan Corning Gorilla Glass 3
  • Dual speaker bersertifikasi Dolby Atmos
  • Kamera Utama 16MP Phase Detection Auto Focus dengan Dual Tone Flash beraperture f2.0
  • Kamera Depan 8MP Auto Focus dengan screen flash beraperture f2.0
  • Metal build bahan Alumunium
  • Dual Sim dengan konfigurasi hybrid Micro SD
  • Wi-fi, Bluetooth, GPS, NFC, FM Radio, Accelerometer, Gyro, Proximity, dan Compass
  • Baterai 3000mAh dengan charger 5V/2A
  • 3GB RAM & 32 GB Storage
  • Android 7.1.1 out of the box, jaminan upgrade ke Android 8.0
  • Snapdragon 430 Octa-core 1.5GHz Cortex-A53

Ekspektasi

Jika kita lihat dari dus dan websitenya, nokia 6 ini menjanjikan fitur multimedia yang oke di harga 3jutaan. Tepatnya 3.299juta rupiah. Layar 5.5” IPS LCD untuk tingkat keakuratan warna yang baik, sektor suara yang dikasih sertifikasi Dolby Atmos dan Kamera 16MP dengan bukaan f2.0. Kira-kira seasik apa si Nokia 6 ini kalau diajak happy happy? Berikut pembahasannya.

Pembahasan

Diatas kertas okelah bisa kita asumsikan layarnya biasa aja. 5.5” IPS LCD resolusi 1920×1080? Itu mah standar. Bahkan daily driver gue aja udah mencakupi itu semua. Tapi setelah gue pake, terutama saat berada di luar ruangan. Gue ngerasa layar Nokia 6 ini tajem. Warnanya enak dilihat. Ada fitur yang menyesuaikan brightness saat kondisi terkena sinar matahari langsung sehingga tampilannya tetep oke di kondisi apapun. Gue coba pake buat nonton beberapa film di hooq, contrastnya oke. Sangat menyenangkan melihat layar Nokia 6.

betapa terangnya nokia 6 dibandingkan yang lain

Untuk kualitas suara, gue cukup kecewa. Walaupun suara yang dihasilkan oke, menggunakan speaker di bagian bawah dan earpiece untuk menghasilkan nuansa stereo. Gue sama sekali tidak melihat adanya fitur “Dolby Atmos” yang digemborkan. Yang ada hanya Dolby Surround. Soalnya sepengetahuan gue, si Dolby Atmos ini ada pengaturannya sendiri dan bisa memainkan equalizer. Sedangkan di opsi Dolby Surround ini hanya ada pilihan Music Mode dan Theatre Mode tanpa ada pengaturan equalizer sama sekali. Untuk perbedaan dua mode ini, yang gue rasakan adalah di Music Mode suara yang dihasilkan cenderung fokus dan detil. Sedangkan saat Theatre mode, menghasilkan nuansa yang lebih surround dan gain yang lebih tinggi.

Kameranya sendiri bisa dibilang oke. Gue sempet bikin polling di Instagram dan sekitar 60% lebih memilih foto hasil Nokia 6 dibandingkan perangkat yang gue sandingkan. Buat gue sendiri, karakter dari fotonya bisa dibilang jujur. Saturasi dan contrastnya dibuat cukup. Shutter speednya oke. Untuk kondisi low-light juga bisa diandalkan untuk range harga 3jutaan.

Kamera belakang Nokia 6

Untuk kamera depannya, hasilnya nggak bosok-bosok amat. Kalian pamerin ke sosial media masih bisa kasih hashtag nofilter, noedit gitulah. Yang gue bingung adalah, hasil low-lightnya menurut gue lebih oke dibandingkan kamera belakangnya. Mungkin karena resolusi yang lebih kecil sehingga alokasi pixelnya tidak terlalu banyak = noisenya tidak terlalu berlebihan tapi ketajamannya tetap terjaga. Efek beautifynya juga bisa diatur dan nggak dempul-dempul banget ngubah mukanya.

Kamera depan nokia 6

Untuk sektor video recording sendiri ga bagus-bagus amat ya. Kurangnya fitur stabilization baik elektronik atau optical bikin video yang ditangkap shaky. Suara yang ditangkap oleh micnya lumayan. Sayangnya peredaman noisenya kurang sehingga suara seperti bunyi kendaraan masih terdengar dan cukup mengganggu saat mengabadikan momen. Tetapi jika melakukan perekaman di kondisi terkontrol seperti dalam kamar atau konser, suara yang ditangkap cukup baik. Bisa cek video di bawah dimana saya mengambil gambar band yang sedang tampil. Bassnya cukup nampol, distorsi suaranya terjadi karena masalah posisi pengambilan gambar. Jika disesuaikan dengan baik, mungkin bisa dijadikan perekam konser musik yang oke.

Sample video recording klik di sini
Sample video recording pada malam hari klik di sini
Sample video concert klik di sini

Ada dua mode tambahan yang disediakan untuk perekaman video yaitu slow-mo dan time-lapse. Untuk menggunakan fitur slow-mo resolusi video harus diturunkan menjadi 720p untuk 1/2speed dan 480p untuk 1/3speed. Sedangkan untuk timelapse tidak membutuhkan pengaturan resolusi, tetapi saat hendak digunakan, ada pemberitahuan untuk menggunakan tripod demi hasil yang maksimal.

Slowmotion video klik di sini
Time lapse video klik di sini

Untuk kamera depan, sebelas duabelas seperti yang sudah gue sebutkan, tidak adanya stabilizer dan noise yang cukup terdengar sehingga bukan opsi terbaik untuk kalian yang suka vlogging atau IG Live.

Sample video kamera depan klik di sini

Yang jadi masalah saat menggunakan kamera adalah UInya yang kalau kata orang sunda mah “lieur” atau bikin pusing. Karena shortcut yang diberikan minim, dan perlu ulik-ulik jauh untuk mengetahui cara menggunakan mode manual. Kabarnya UI camera ini akan diperbaharui di Oreo dengan menggunakan UI camera lumia. Semoga saja isu ini bener terjadi.

Selain dari pengujian fitur-fitur kunci tersebut. Fitur-fitur pendukung yang diberikan menurut saya biasa saja. Dengan penggunaan standar seperti sosial media, browsing, dan sedikit multimedia seperti dengerin lagu, nonton video, atau main game. Usage time bisa mencapai 14 sampai 19 jam. Terdapat satu hari dimana saya menggunakan kamera secara intensif dan hanya mendapatkan usage time sekitar 8h dengan screen on time sekitar 2h 17m. Menurut gue pengukuran dari penggunaan sehari-hari kurang mewakilkan karena setiap orang memiliki kebutuhan dan aktivitas yang berbeda-beda. Oleh karena itu gue test kembali dengan aplikasi PCMark. Untuk pengujian Work2.0, Nokia 6 mendapatkan score battery life sebesar 4h 45m yang jika kita bandingkan dengan smartphone di harga 3jutaan cukup rendah. Sangat disayangkan memang, sebagai smartphone untuk multimedia tapi diberi kemampuan baterai yang lebih cocok disematkan untuk smartphone sosial media saja. Untuk pengisian daya sendiri bisa dibilang standar untuk smartphone berkapasitas 3000mAh dan charger 5V/2A jika kita melihat data pengisian dari 15% sampai 100% yang membutuhkan waktu sekitar 2jam 15menit. Tetapi dari data yang saya ambil. Untuk pengisian daya sekitar 1 jam, bisa mengisi dari 15 ke 80% itu cukup membahagiakan. Lalu dari 80% sampai 100% bisa kita sebut trickle charging agar tidak membebani device.

PCMark Work 2.0 Battery Life – Nokia 6

charging time nokia 6

Build quality yang diberikan cukup membedakan device ini dengan pesaing-pesaingnya. Walaupun dibalut metal, terasa tidak licin. Satu hal yang saya suka dari design adalah tombolnya yang clicky dan asik banget untuk digunakan. Semakin memantapkan bodynya yang kokoh. Di bagian kamera ada sedikit tonjolan, ada beberapa yang tidak terlalu suka tonjoloan ini ada juga yang biasa-biasa aja dan gue termasuk golongan yang kedua.

Pemilihan processor dan ram yang bisa dibilang mengecewakan, menurut gue nggak sejelek yang gue prediksi. Terbukti saat berpindah aplikasi masih terbilang lancar dan aplikasi tidak reload ulang ke splashscreen melainkan melanjutkan dari kegiatan yang sebelumnya tertunda. Kemungkinan besar karena menggunakan Pure Android yang dibilang banyak orang management ram yang bagus sehingga RAM 3GB itu tidak terasa tersendat. Yang cukup kerasa mungkin karena menggunakan processore dengan clockspeed rendah, sehingga membutuhkan waktu lebih lama saat membuka aplikasi dari 0 termasuk aplikasi berat seperti game. Tetapi jika sudah masuk ke aplikasi, operasinya berjalan lancar tanpa kendala. Seperti ketika saya memainkan game Star Wars Force Arena, AoV, Captain Tsubasa dalam kualitas medium, dan game kecil seperti Stack, Subway Surfer, dan Candy Crush. Hal ini sesuai dari hasil benchmark yang sudah dilakukan. Gue menggunakan tiga software yaitu PCMark Work 2.0, Geekbench 4 Pro, dan Antutu. Antutu menyebutkan bahwa kemampuan 3D Nokia 6 itu ada di tingkat mid-level. Gue mengartikan bahwa kemampuan gaming di setting low sampai medium bisa dihajar dengan fps minimal 30fps. Sempat saya coba AoV dengan setting tertinggi, cukup playable tapi dibeberapa situasi ramai objek, mengalami framedrop. Kemampuan CPU juga dibilang bisa menjalankan aplikasi besar dan multi tasking yang oke, sesuai dari apa yang gue sebutkan diatas. Jika kalian menginginkan besar-besaran score, Antutu memberikan score 46997, Nilai dari Geekbench 4 Pro adalah 655 untuk single core dan 2819 untuk multi core, dan PCMark Work 2.0 di nilai 3582.

PCMark Work 2.0 Score – Nokia 6

Antutu Benchmark 1 – Nokia 6

Antutu Benchmark 2 – Nokia 6

Geekbench 4 Pro – Nokia 6

Terkait konektivitas dan sensor, tidak ada masalah. Navigasi menggunakan Google Maps dan Waze terasa lancar, adanya Gyro juga membantu saat menkonsumsi video 360 dan konten VR, untuk teleponan pun tidak terganggu dan proximity sensor berjalan seperti seharusnya.

Yang menurut saya sebuah fitur Unggulan tapi tidak digembor-gemborkan oleh nokia adalah, OS yang menggunakan Pure Android dengan dukungan update bulanan yang bahkan lebih cepet dari smartphone yang dapet titel Android One. Walaupun memang saat ini belum daper update Oreo, tetapi program beta tester untuk oreo sudah berjalan dan hebatnya dibuka untuk publik. Jika sudah puas cicip oreo beta dan ingin kembali ke nougat juga disediakan pedoman yang rinci untuk kembali ke os yang nougat. Memang tidak semua suka dengan Pure Android, tapi jika kalian tahu. Pengguna pure android ini sama militannya seperti brand kelinci sebelah.

Kesimpulan

Kita masuk ke kesimpulan. Nokia 6 ini bisa jadi pilihan kalian yang suka mengkonsumsi multimedia di smartphone. Walaupun ada beberapa sektor yang kurang, itu hanya kendala di software. Dengan dukungan update bulanan seharusnya bisa diperbaiki segera. Seperti pada judul podcast ini, Nostalgia dengan rasa masa kini. Kita diingatkan kembali masa-masa adi daya Nokia dengan lini N-series yang memang mengedepankan sektor multimedia dan masa-masa lumia series dengan build qualitynya yang kokoh dan tidak sembarangan dengan rasa baru yaitu OS Android. Gue berharap HMD Global yang sekarang memegang brand Nokia bisa bertahan dan bersaing di Indonesia setidaknya dua tahun dulu lah. Jangan cepat menyerah karena daily driver gue di tahun 2018 kemungkinan dari brand ini.

Foto dan Screenshot pendukung:

Free RAM Out of the Box – Nokia 6

Flash Lowlight Back Camera – Nokia 6

Lowlight Front Camera – Nokia 6

Blur Aperture Back Camera – Nokia 6

HDR Auto Back Camera – Nokia 6

Texture Back Camera – Nokia 6

HDR Off Back Camera – Nokia 6

HDR On Back Camera – Nokia 6

Saturation Back Camera – Nokia 6

Saturation Back Camera – Nokia 6

Free Storage Out of the Box – Nokia 6

Comments

comments

You may also like

Leave a Comment